wisata murah di jogja

Kamis, 08 November 2018

Kue kembang waru: khas kotagede yang hampir hilang


Kalau traveller main-main ke Jogja pasti tau daerah bernama Kotagede. Kotagede merupakan kota tertua yang ada di Yogyakarta.  Selain kota tertua, Kotagede juga merupakan sentra pembuatan dan penjualan silver yang aling terkenal.  Namun,  ga cuma kota tua dan silver. Kulinerannya disana juga sangat melegenda.  Salah satunya adalah kue kembang waru. 
Kembang waru adalah penganan khas Kotagede Yogyakarta. Rasa dan filosofi di balik kue berbentuk bunga ini unik dan istimewa. Filosofi di balik kembang waru juga menarik. "Kembang waru. Kembangnya Mesti delapan. Nasihat daripada pendahulu tentang delapan jalan utama atau Hasto broto yaitu 8 jalan utama. Diibaratkan 8 elemen penting yaitu matahari, bulan, bintang, mega (awan), tirta (air), kismo (tanah), samudra, dan maruto (angin). Oleh karena itu siapa yang makan kembang waru harus bisa menjiwai dan mengamalkan 8 delapan jalan utama.

Dimasak dengan menggunaan terigu dalam adonan kue ini menunjukkan pengaruh kuat budaya Eropa yang diperkenalkan Belanda pada zaman kolonial. Kala itu, terigu adalah bahan dasar mewah, tak heran jika pada masanya kembang waru adalah kudapan mewah. Biasanya dijadikan persembahan bagi Raja Mataram, atau hanya dapat ditemui pada perayaan khusus. Namun, seiring waktu, kue ini menjadi semakin terjangkau oleh masyarakat luas. Meski masih jadi primadona dalam perayaan khusus, kembang waru sudah bukan makanan khusus raja lagi.

Kembang waru berwujud seperti bolu basah. Dulu, kue ini menggunakan bahan tepung ketan dan telur ayam kampung. Dua bahan ini membuat rasa yang istimewa. Kini, dua bahan itu mahal harganya, bahan pun dimodifikasi. Bahan adonan kembang waru kini terdiri dari telur ayam, tepung terigu, gula pasir, soda vanili, dan susu.

Setelah mencampur seluruh bahan, adonan kemudian dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk bunga yang sudah dioles mentega. Setelah itu adonan dipanggang di atas nampang berbahan kuningan yang diletakkan di atas arang. Lebih dari satu jam kemudian, kembang waru pun matang. Warnanya kuning keemasan, rasanya empuk, manis, sedikit renyah di bagian tepi.

Dari sajian raja, terjangkau bagi rakyat jelata, belakangan kembang waru mulai langka. Hanya ada sebagian wilayah Kotagede yang masyarakatnya masih membuat kembang waru dengan cara tradisional. Di antaranya beberapa warga di Kampung Bumen, dan Kampung Basen, Kotagede, Yogyakarta.
Makanya main-main ke jogja, nikmati hari dan maknai semua perjalanan dan sajian-sajian imajinasi history jaman dulu. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar